Positive Vibe Positive Vibe Bullshit!



Tidak jarang saya menemukan Insta story atau tweet sesesorang yang usianya sepantaran dengan saya tapi masih mempermasalahkan sirkel pertemananya. Mungkin ini subjektif untuk dibahas, tetapi saya ingin menyampaikan sudut pandang.

Jelas, kita merupakan makhluk sosial. Lingkungan keluarga,sekolah hingga pertemanan entah sedikit atau banyak pasti akan mempengaruhi diri kita dalam bertindak maupun berpikir. Karena interaksi antar individu bisa menimbulkan Empati, simpati, identifikasi dan imitasi.

Dalam hal itu, kualitas seseorang bisa dilihat dari apa yang ia katakan dan apa yang ia lakukan. dua hal tersebut sangat bergantung pada apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar. Jika digeneralisasikan mungkin akan merujuk pada deskripsi bahwa “menjadi orang baik harus bergaul dengan orang baik juga” atau sebaliknya.

Generalisasi tersebut bisa jadi benar ataupun salah, itu yang saya yakini. Sebab pengaruh lingkungan tidak akan berdampak besar bagi individu yang memiliki  pegangan yang kuat. Pegangan yang dimaksud disini adalah kiat-kiat hal yang benar dan salah menurut individu tersebut, atau nilai.

Nilai yang tertanam pada individu dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya yaitu keluarga. Dimana hal yang ia yakini benar dan salah didapat dari apa yang ada pada keluarga,  termasuk orientasi dirinya di masa depan. Sayangnya, tidak semua orang beruntung bisa mendapat sosok figur ataupun lingkungan yang baik untuk berkembang.

Akibatnya, banyak sekali orang yang tidak bisa membedakan hal yang salah dengan yang benar, tidak memiliki prinsip dan orientasi yang tepat. Sehingga ketika berada di fase yang seharusnya bisa menyelesaikan masalah dirinya dengan tepat, malah menjadi kehilangan arah dan stres akibat tidak tau hal apa yang harus ia lakukan.

Bercerita, mungkin sebagian orang menjadikan ini sebagai stress healing ataupun bentuk ekspresi emosi dalam jiwanya. Namun bercerita dan mengungkapkan sesuatu tidaklah solutif jika apa yang diceritakan dan orang yang diajak bercerita tidak tepat.

Berbuat salah adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi ketika seorang individu terus menerus mendapatkan masalah, dapat dipastikan ada yang salah pada dirinya. Padahal kesalahan diawal seharusnya bisa menjadi acuan untuk langkah selanjutnya. Namun, banyak yang tidak sadar.

Beruntunglah kalian yang bisa memetakan kesalahan-kesalahan lalu berusaha untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik. Sayangnya untuk mendapatkan kesadaran seperti ini sangatlah susah, harus bentrok dengan ego diri sendiri.

Bentrok dengan pikiran pikiran yang terbatas, pikiran yang tidak sinkron antara realitas dengan ekspektasi. Tetapi konflik internal inilah yang akan membuat sesorang akan sadar tentang posisi dirinya dan hal apa yang paling tepat untuk dilakukan.

Terlebih lagi dalam hal mengambil keputusan. Merencanakan sesuatu memang mudah, tetapi ketika menjalani sesuatu di situasi yang mengharuskan diri untuk improve adalah survival yang sangat bernilai. Disini diri kita akan benar-benar di uji bagaimana kita menyikapi pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Masalah salah benar itu urusan belakang, asal niat kita lurus maka segala jalan untuk mencapai tujuan akan selalu ada. Walaupun harus banyak pengorbanan, termasuk mengorbankan “harga diri” sekalipun. Mengambil keputusan diperlukan optimisme dan pikiran yang positif.

Termasuk berani mengambil keputusan untuk meninggalkan hal-hal yang kita sayangi. Ketika hal-hal tersebut membebani diri kita untuk melangkah, saya lebih yakin untuk meniggalkanya.

Beban tidak hanya diartikan sebagai tuntutan, tetapi hal yang membuat suasana menjadi toxic, penuh dengan pesimisme, keluh kesah tanpa aksi, dan kepasifan juga termasuk. Sebab secara tidak langsung energi-energi tersebut akan mempengaruhi diri kita walaupun apa yang kita pegang lebih kuat.

Jika bertanya, “kenapa tidak kita rubah saja agar mereka yang terpengaruhi oleh kita?” saya kurang yakin dengan hal ini, ini hanya sebatas idealisme seseorang yang dibutakan oleh perasaan. Cerita tentang merubah sikap dan kebiasaan seseorang dengan kata kata manis hanyalah bullshit. Mereka hanya berlaku berbeda ketika di depan kita.

Individu dapat berubah ketika ia memiliki motivasi yang kuat pada dirinya serta pengalaman-pengalaman itulah yang memungkinkan membawa perubahan. Doktrin sekelas cuci otak pun akan kalah dengan motivasi internal.

Meskipun begitu, percaya diri yang tinggi dan hasrat yang menggebu perlu juga diimbangi dengan mendengar pengalaman orang lain. Bukan berarti menjadi diri sendiri adalah memblokir semua masukan dan percaya pada egonya. Mendengarkan adalah kunci, dimana kita bisa memetakan apa yang sedang terjadi di sekitar, mengerti apa yang orang lain inginkan, mengetahui pola-pola sosial lingkungan sekitar kita.

Mendengarkan dan melihat juga merupakan sarana yang sangat ampuh untuk merencanakan aksi sebelum eskekusi. Menghindarkan diri kita dari ke-egoisan ketika berinteraksi serta akan membuat diri lebih bijak pada setiap langkahnya.

Ya di sini saya hanya sebatas bercerita tentang apa yang saya lihat, apa yang saya alami dan saya rasakan. Nyatanya, berteman dengan orang-orang penuh optimisme dan visioner memang akan mempengaruhi diri kita pada hal yang baik. Positive vibes benar-benar terasa. Berbeda dengan mereka yang mengaku pembawa “Positive Vibe” tetapi tiap hari mengeluh di sosmednya.

Optimis dan visioner berbeda dengan ambisius. Optimisme yang benar akan mempengaruhi alam bawah sadar diri kita untuk senantiasa berhasil. Walaupun merasakan kegagalan, rasa gagal tersebut bukan menjadi sebuah halangan.

Ini hanya opini saya, perkara benar salah setuju atau tidak tidak ada yang memaksakan anda untuk mengamini ini. hanya ingin mengingatkan, dimana posisi anda dan sedang bersama siapa saat ini, itu akan mempengaruhi diri kita pada esok hari.

2 komentar: