Adaptasi. Secara etimologi kata adaptasi berasal dari bahasa
Latin yaitu kata adaptare, di mana ad- berarti 'pada' atau
'menuju', dan aptare berarti 'membuat pas', 'mencocokkan', atau
'menjadikan sesuai'. Pada KBBI didefinisikan bahwa adaptasi merupakan
penyesuaian diri terhadap lingkungan.
Saya tertarik tentang bagaimana manusia bisa survive
sejak zaman dahulu dalam menghadapi perubahan yang sangat dinamis, mengalami
masa krisis hingga masa kejayaan yang terus berputar hingga saat ini.
Menghadapi gejolak sosial hingga bencana alam yang tidak masuk akal. Dari semua
makhluk yang ada di muka bumi ini, manusia menjadi salah satu yang memiliki survival
rate tinggi.
Setelah ditelisik, yang membedakan manusia dengan
makhluk lain dalam menghadapi krisis adalah pola dalam interaksinya.
Singkatnya, manusia membantu satu sama lain dan hidup secara komunal. Ini
menjadi kunci manusia untuk selamat menghadapi krisis. Mereka saling back-up
dan saling melindungi komunitasnya, sejak zaman berburu dan meramu, hidup
nomaden, hingga membangun peradaban baru. Manusia mampu belajar dari kejadian
untuk mempersiapkan masa depan. Menjadi bukti bahwa manusia adalah makhluk
sosial yang lengkap dengan akalnya. Di kala makhluk lain menghadapi krisis yang
sama, mereka tidak memiliki pola efektif seperti manusia. Hewan cenderung
impulsif mengikuti nalurinya.
Pola ini menjadi cikal bakal peradaban manusia saat
ini. Kemajuan peradaban saat ini tidak lepas dari adaptasi yang dilakukan
manusia dalam menghadapi permasalahan dan masa-masa sulit di masa lalu. Perang,
bencana alam, wabah penyakit, bahkan genosida. Namun uniknya, kejadian-kejadian
tersebut tidak mengurangi populasi manusia secara signifikan. Regenerasi tetap
berlangsung dan semua masih berlanjut hingga saat ini.
Mungkin kita sering mendengar “sesuatu yang tidak
membunuhmu, akan membuatmu semakin kuat.” Saya setuju dengan pernyataan ini,
karena pada dasarnya manusia memiliki kemampuan untuk belajar dan memaknai
setiap kejadian untuk melanjutkan keberlangsungan hidupnya. Setiap proses dan
pengalaman akan membentuk sudut pandang dalam memaknai sebuah masalah. Ini
merupakan bagian dari adaptasi.
Namun ini pula yang menyebabkan konflik, hal yang
membuat kita memiliki perbedaan pandangan dengan orang lain, sebab proses dan
pengalaman tiap individu saling berbeda. Misal: kadang kita terlalu dini
menghakimi orang lain dengan diksi “baperan”, “sensi”, atau apa pun itu.
Padahal bisa jadi resistensi orang tersebut dalam mencerna sebuah masalah
memiliki level yang berbeda dengan kita. Di momen ini kita sebagai manusia
mesti memahami bahwa kebenaran yang kita yakini kadang berbeda dengan yang
lain. Semuanya subjektif dan berada di zona abu-abu sampai dengan
terkonfirmasi. Dan sebagai makhluk sosial, hal seperti ini sangat lumrah
terjadi.
Namun kali ini saya ingin mengulas hal-hal yang lebih
dekat, bukan terkait peradaban manusia melainkan tentang individu dalam
menyelesaikan masalah pada dirinya berdasarkan pola manusia sejak dahulu kala,
perihal gejolak batin, perihal gesekan dengan individu lain, perihal individu
memaknai pertemuan dan perpisahan hingga penyelesaian konflik absurd yang
terjadi.
Saya selalu penasaran dengan “bagaimana ini terjadi”
dan “apa yang menyebabkan ini”. Ketertarikan saya terhadap kausalitas membawa
saya pada jawaban-jawaban yang panjang. Perlu pemahaman dari berbagai sudut
pandang untuk sampai pada “memaklumi” sebuah masalah dan menyelesaikannya
dengan cara yang paling manusiawi.
Di usia saya saat ini, proses temu-jumpa dengan orang
lain menjadi lebih beragam. Datang dan pergi menjadi hal yang sering terjadi.
Kadang pertemuan dengan seseorang membawa kita pada hal-hal baru yang
sebelumnya tidak pernah disangka. Hal-hal baru ini secara tidak sadar akan
terekam oleh memori untuk dijadikan arsip dan referensi di kemudian hari.
Yang menjadi masalah adalah: kadang kita terikat pada
“referensi lama” pada setiap pertemuan baru. Kita selalu membanding-bandingkan
kejadian saat ini dengan masa lalu. Tidak masalah jika yang dibandingkan adalah
pemaknaan, namun sayangnya sering kali kita membandingkan polanya, bukan lagi
nilainya.
Hal seperti ini yang sering kali membuat kita tidak
bahagia, karena senantiasa berekspektasi seperti masa lalu dibandingkan
menemukan makna baru di pertemuan baru. Memang perlu diakui, proses kita dalam
mengelola “memori masa lalu” bukan sesuatu yang mudah. Perlu proses panjang
untuk menuju fase penerimaan seperti yang dikemukakan oleh Kübler-Ross tentang stages
of grief: denial, anger, bargaining, depression, and acceptance.
Untuk menuju fase acceptance atau penerimaan ini memerlukan proses
panjang untuk “sadar” bahwa semuanya sudah terjadi, sudah terlewati, dan tidak
ada tombol untuk kembali.
Dari semua itu yang tersisa hanyalah makna. Makna di
sini bisa berupa sudut pandang baru kita terhadap sesuatu yang akan terus
memengaruhi keputusan-keputusan hidup kita ke depannya. Tentunya ini positif.
Makna menjadi pembelajaran baru kita untuk terus improve dan beradaptasi
dengan segala apa yang ditemui. Bayangkan saja jika proses sakit dan
berdarah-darah itu tidak menghasilkan apa-apa, tidak ada pelajaran yang
didapat, atau makna baru yang ditemui. Semuanya lewat begitu saja untuk
orang-orang yang merugi.
Output dari segala proses ini adalah ketenangan batin,
pengambilan keputusan yang jelas, dan meminimalkan langkah impulsif serta
resiliensi batin yang lebih tangguh. Kegundahan batin terjadi karena kita
takut, dan ketakutan datang dari hal-hal yang tidak kita ketahui dan tidak kita
mengerti. Dengan “referensi masa lalu” yang kita proses menjadi makna dan
pengalaman, otomatis kita akan lebih siap menghadapi hal-hal di depan yang
belum kita ketahui.
Termasuk menghadapi orang-orang baru, permasalahan
baru, dan lingkungan baru. Dengan apa yang kita miliki dari pemaknaan tersebut,
semua akan terasa lebih mudah, lebih terukur, dan tahu harus bereaksi seperti
apa pada setiap kondisi.
Kita semua amatiran. Ini adalah pengalaman hidup kita
yang pertama. Tidak ada yang luput dari kesalahan. Namun saya yakin dengan
proses pemaknaan struggle dan konflik yang terjadi akan membuat kita
semakin siap menghadapi segalanya. Meskipun saya sadar betul terkait ini,
kadang kita tidak bisa berpikir jernih ketika semua sedang bergejolak. Namun
dengan kesadaran ini cukup meyakinkan bahwa kita adalah manusia seutuhnya yang
terus beradaptasi dengan zaman dengan segala pergerakannya yang cepat.
saya semakin memahami bahwa adaptasi bukan hanya soal bertahan menghadapi krisis besar atau perubahan zaman, melainkan juga soal bagaimana kita mengelola setiap pertemuan dan perpisahan yang hadir dalam hidup. Termasuk ketika konflik muncul di tengah proses mengenal dan memilih seseorang untuk berjalan lebih jauh. Setiap temu-pisah meninggalkan jejaknya sendiri dalam memori, dan sering kali kita tanpa sadar membawa referensi lama ke dalam ruang yang seharusnya baru. Padahal, yang tersisa dari segala rasa sakit dan gejolak hanyalah makna - makna yang jika diproses dengan baik akan menumbuhkan ketenangan, kejernihan, dan ketangguhan batin. Kita tidak lagi sekadar mengulang pola, melainkan benar-benar belajar untuk hadir secara utuh, menerima bahwa kita semua masih amatiran dalam urusan ini, dan terus beradaptasi dengan cara yang paling manusiawi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar