“hidup memang tidak adil, biasakanlah dirimu” kalimat tersebut sering kali membuat saya tersadar, tentang bagaimana dunia itu berkerja. Tentang sudut pandang kita yang tidak pernah sama dengan orang lain. Tentang banyak hal yang tidak ideal seperti yang kita bayangkan.
Akhir-akhir ini
saya sering kali menanyakan ke sahabat-sahabat saya tentang “Untuk apa sebenarnya
kita hidup ke dunia?” saya membatasi jawabanya agar memiliki konteks duniawi,
bukan sudut pandang agama. Jawabanya beragam, namun mereka tidak bisa
menjawabnya dengan lugas.
Kondisinya sama
seperti saya, tidak mengetahui secara pasti tentang tujuan saya lahir ke dunia
secara “praktis”, jika diusut dari sudut pandang agama maka tugas kita jelas,
lahir ke dunia untuk menghamba kepada tuhan. Namun seringkali interpretasi
menghamba di sini memiliki bias yang sangat luas jika hanya diinterpretasikan
sebagai ibadah. Bukan berarti tidak mengimani atau tidak meyakini, namun saya
hanya ingin mengetahuinya secara clear dari sudut pandang duniawi.
Dengan penuh
kesadaran sebenarnya tidak bisa dipisahkan antara hal dogmatis dengan hal klinis,
namun saya ingin mengetahui sudut pandang baru perihal eksistensi manusia di
dunia ini. Pertanyaan semacam ini akan membuat kita senantiasa merenungi makna
setiap peristiwa, setiap moment, setiap kondisi yang kita hadapi.
Saya salah satu
orang yang meyakini bahwa tidak ada hal yang terjadi secara random begitu saja,
saya yakin disetiap “kebetulan” ada hal yang tersirat maupun tersurat. Termasuk
ketidak adilan yang saya tanyakan diawal tadi. Coba perhatikan betapa tidak
adilnya dunia, di saat anda sedang membaca tulisan ini dengan tenang, banyak
sekali hal-hal tidak menyenangkan sedang terjadi di luar sana, kemiskinian,
kelaparan dan kehidupan yang keras lainya.
Sejak awal
kehidupanpun sudah berbeda, ada yang ditakdirkan lahir dari rahim seorang ibu
yang terfasilitasi dengan sangat baik, treatment penuh kebahagiaan dan bergelimang
harta. Namun di jarak beberapa ratus meter saja ada hal yang terjadi secara
kontra, ada yang mengandung anak dalam kemiskinan, untuk makan saja susah. Bukan
tentang iri atau merasa kasihan dengan kesenjangan ini. Namun saya lebih
penasaran, untuk apa kedua hal ini ada? Apakah untuk sekadar dibanding-bandingkan?
Untuk menjadi bahan bersyukur si kaya? Atau untuk menjadi bahan motivasi si miskin?
Ada yang mengatakan,
hidup adalah pilihan. Untuk hidup layak kalian bisa memilih jalan hidup yang
keras penuh perjuangan untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Namun bagi saya,
ini sangat klise. Banyak orang kelas bawah tidak memiliki pilihan, mereka hanya
berjalan meniti garis yang ia pijak sejak lahir, tidak ada opsi lain untuk tetap
bertahan, tidak ada jalur lain. Termasuk ia tidak bisa memilih lahir dari
keluarga seperti apa yang tentu akan berpengaruh pada konsekuensi lain di
depanya.
Ironinya, ada yang
sejak lahir hingga mati benar-benar tidak pernah mendapatkan fasilitas yang layak
atau mencicipi kehidupan yang lebih baik. Di sini saya tidak mengatakan “bahagia”
atau “tidak bahagia” sebab kebahagiaan orang memiliki sekala atau range yang
berbeda. Ada yang sudah sangat bahagia di level tidur di atas tikar dan tidak
kehujanan, ada juga yang merasa bahagia ketika makan malam mesti dengan caviar
bertabur emas, sangat subyektif.
QS. Al-An'am (6):
32: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda
gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang
bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?".
QS. Al-'Ankabut
(29): 64: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari senda gurau dan
permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya,
sekiranya mereka mengetahui.".
Dari kedua ayat
tersebut, ketidak adilan di dunia semakin tervalidasi. Anggap saja dunia ini
seperti permainan, ada main caracter, ada pula NPC / figuran yang hadir sebagai
pelengkap saja. Namun yang meresahkan adalah: NPC di permaianan ini memiliki
kesadaran yang sama dengan main caracter. Dari poin ini saja sudah bisa
ditebak, terlalu beruntung untuk mereka yang menjadi karakter utama, sementara
para figuran hanya stagnan di situ saja meskipun sudah berusaha setengah mati
untuk naik level.
Mungkin konsep ini
pula yang bisa dikorelasikan dengan qodo dan qadar, kita dipush senantiasa
mencoba untuk unlock hal-hal baru, tentu tidak semuanya yang mecoba akan
kebagian. Bisa jadi ia memang NPC saja di dunia ini. Memang tidak adil, dan
mesti terbiasa.
Yang paling relate
saat ini adalah fenomena di sosial media. Semua yang muncul too good to be
true. Semua hal muncul dengan kesempurnaanya masing-masing. Kadang saya sendiri
juga terheran dan bergumam “kok bisa ya orang lain beruntung seperti itu” namun
setelah diulik dan direnungi, yang muncul di sosial media mereka adalah segelintir
“kebetulan” diantara ribuan kepayahan yang sudah dihadapi, ada pula yang menggadaikan
banyak hal untuk “keberuntungan sesaat” itu.
Sering kali kita
mengelak fakta ini, selalu denial dengan membanding-bandingkan kesusahan satu
dengan lainya seperti: “Ah gapapa, saya miskin yang penting keluarga berkumpul
lengkap” atau ada yang membandingkan kesusahan orang lain dibanding dengan apa
yang ia miliki: “percumah kaya, tapi ga punya anak” ungkapan demikian sering
kali muncul sebagai defensif sesorang terhadap apa yang ia tidak miliki.
Meskipun itu sah
dan legal, namun perlu dipahami bahwa itu adalah manifestasi ketidak adilan
dunia, meskipun sekilas terlihat itu adalah sesutu yang adil karena sama-sama
memiliki kekurangan atau kelebihan, namun itu bukan sesuatu yang dibenarkan. Karena
sudut pandang yang dipakai adalah komparatif, membanding-bandingkan.
Padahal, alat ukur
yang kita pakai tidaklah sama. Semua orang memiliki standar, pengalaman, ilmu,
informasi dan prioritas yang berbeda. Otomatis tidak ada hasil pengukuran yang
valid, semua hal hanyalah subyektifitas manusia dengan opininya masing-masing.
Namun masalahnya
teletak pada opini tersebut, seiring berjalanya waktu opini yang subyektif itu
perlahan menjadi standar sosial untuk menentukan, menilai atau menggeneralisir
sesuatu. Dengan pengulangan yang sama, maka ketidak adilan akan selalu ada dan
berputar di sekililing kita hingga mati, dunia memang tidak adil dan kita mesti
terbiasa dengan hal ini.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar