Hidup memang tidak adil, maka biasakanlah dirimu!


“hidup memang tidak adil, biasakanlah dirimu” kalimat tersebut sering kali membuat saya tersadar, tentang bagaimana dunia itu berkerja. Tentang sudut pandang kita yang tidak pernah sama dengan orang lain. Tentang banyak hal yang tidak ideal seperti yang kita bayangkan.  

 

Akhir-akhir ini saya sering kali menanyakan ke sahabat-sahabat saya tentang “Untuk apa sebenarnya kita hidup ke dunia?” saya membatasi jawabanya agar memiliki konteks duniawi, bukan sudut pandang agama. Jawabanya beragam, namun mereka tidak bisa menjawabnya dengan lugas.

 

Kondisinya sama seperti saya, tidak mengetahui secara pasti tentang tujuan saya lahir ke dunia secara “praktis”, jika diusut dari sudut pandang agama maka tugas kita jelas, lahir ke dunia untuk menghamba kepada tuhan. Namun seringkali interpretasi menghamba di sini memiliki bias yang sangat luas jika hanya diinterpretasikan sebagai ibadah. Bukan berarti tidak mengimani atau tidak meyakini, namun saya hanya ingin mengetahuinya secara clear dari sudut pandang duniawi.

 

Dengan penuh kesadaran sebenarnya tidak bisa dipisahkan antara hal dogmatis dengan hal klinis, namun saya ingin mengetahui sudut pandang baru perihal eksistensi manusia di dunia ini. Pertanyaan semacam ini akan membuat kita senantiasa merenungi makna setiap peristiwa, setiap moment, setiap kondisi yang kita hadapi.

 

Saya salah satu orang yang meyakini bahwa tidak ada hal yang terjadi secara random begitu saja, saya yakin disetiap “kebetulan” ada hal yang tersirat maupun tersurat. Termasuk ketidak adilan yang saya tanyakan diawal tadi. Coba perhatikan betapa tidak adilnya dunia, di saat anda sedang membaca tulisan ini dengan tenang, banyak sekali hal-hal tidak menyenangkan sedang terjadi di luar sana, kemiskinian, kelaparan dan kehidupan yang keras lainya.

 

Sejak awal kehidupanpun sudah berbeda, ada yang ditakdirkan lahir dari rahim seorang ibu yang terfasilitasi dengan sangat baik, treatment penuh kebahagiaan dan bergelimang harta. Namun di jarak beberapa ratus meter saja ada hal yang terjadi secara kontra, ada yang mengandung anak dalam kemiskinan, untuk makan saja susah. Bukan tentang iri atau merasa kasihan dengan kesenjangan ini. Namun saya lebih penasaran, untuk apa kedua hal ini ada? Apakah untuk sekadar dibanding-bandingkan? Untuk menjadi bahan bersyukur si kaya? Atau untuk menjadi bahan motivasi si miskin?

 

Ada yang mengatakan, hidup adalah pilihan. Untuk hidup layak kalian bisa memilih jalan hidup yang keras penuh perjuangan untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Namun bagi saya, ini sangat klise. Banyak orang kelas bawah tidak memiliki pilihan, mereka hanya berjalan meniti garis yang ia pijak sejak lahir, tidak ada opsi lain untuk tetap bertahan, tidak ada jalur lain. Termasuk ia tidak bisa memilih lahir dari keluarga seperti apa yang tentu akan berpengaruh pada konsekuensi lain di depanya.

 

Ironinya, ada yang sejak lahir hingga mati benar-benar tidak pernah mendapatkan fasilitas yang layak atau mencicipi kehidupan yang lebih baik. Di sini saya tidak mengatakan “bahagia” atau “tidak bahagia” sebab kebahagiaan orang memiliki sekala atau range yang berbeda. Ada yang sudah sangat bahagia di level tidur di atas tikar dan tidak kehujanan, ada juga yang merasa bahagia ketika makan malam mesti dengan caviar bertabur emas, sangat subyektif.

 

QS. Al-An'am (6): 32: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?".

 

QS. Al-'Ankabut (29): 64: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.".

 

Dari kedua ayat tersebut, ketidak adilan di dunia semakin tervalidasi. Anggap saja dunia ini seperti permainan, ada main caracter, ada pula NPC / figuran yang hadir sebagai pelengkap saja. Namun yang meresahkan adalah: NPC di permaianan ini memiliki kesadaran yang sama dengan main caracter. Dari poin ini saja sudah bisa ditebak, terlalu beruntung untuk mereka yang menjadi karakter utama, sementara para figuran hanya stagnan di situ saja meskipun sudah berusaha setengah mati untuk naik level.

 

Mungkin konsep ini pula yang bisa dikorelasikan dengan qodo dan qadar, kita dipush senantiasa mencoba untuk unlock hal-hal baru, tentu tidak semuanya yang mecoba akan kebagian. Bisa jadi ia memang NPC saja di dunia ini. Memang tidak adil, dan mesti terbiasa.

 

Yang paling relate saat ini adalah fenomena di sosial media. Semua yang muncul too good to be true. Semua hal muncul dengan kesempurnaanya masing-masing. Kadang saya sendiri juga terheran dan bergumam “kok bisa ya orang lain beruntung seperti itu” namun setelah diulik dan direnungi, yang muncul di sosial media mereka adalah segelintir “kebetulan” diantara ribuan kepayahan yang sudah dihadapi, ada pula yang menggadaikan banyak hal untuk “keberuntungan sesaat” itu.

 

Sering kali kita mengelak fakta ini, selalu denial dengan membanding-bandingkan kesusahan satu dengan lainya seperti: “Ah gapapa, saya miskin yang penting keluarga berkumpul lengkap” atau ada yang membandingkan kesusahan orang lain dibanding dengan apa yang ia miliki: “percumah kaya, tapi ga punya anak” ungkapan demikian sering kali muncul sebagai defensif sesorang terhadap apa yang ia tidak miliki.

 

Meskipun itu sah dan legal, namun perlu dipahami bahwa itu adalah manifestasi ketidak adilan dunia, meskipun sekilas terlihat itu adalah sesutu yang adil karena sama-sama memiliki kekurangan atau kelebihan, namun itu bukan sesuatu yang dibenarkan. Karena sudut pandang yang dipakai adalah komparatif, membanding-bandingkan.

 

Padahal, alat ukur yang kita pakai tidaklah sama. Semua orang memiliki standar, pengalaman, ilmu, informasi dan prioritas yang berbeda. Otomatis tidak ada hasil pengukuran yang valid, semua hal hanyalah subyektifitas manusia dengan opininya masing-masing.

 

Namun masalahnya teletak pada opini tersebut, seiring berjalanya waktu opini yang subyektif itu perlahan menjadi standar sosial untuk menentukan, menilai atau menggeneralisir sesuatu. Dengan pengulangan yang sama, maka ketidak adilan akan selalu ada dan berputar di sekililing kita hingga mati, dunia memang tidak adil dan kita mesti terbiasa dengan hal ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar